:background-contents>

10.30.2011

MUSIK DANGDUT

A.          Asal Mula DANGDUT
Penyebutan nama "dangdut" merupakan onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang saja) musik India. Putu Wijaya awalnya menyebut dalam majalah Tempo edisi 27 Mei 1972 bahwa lagu Boneka dari India adalah campuran lagu Melayu, irama padang pasir, dan "dang-ding-dut" India. Sebutan ini selanjutnya diringkas menjadi "dangdut" saja, dan oleh majalah tersebut digunakan untuk menyebut bentuk lagu Melayu yang terpengaruh oleh lagu India.
Airan musik DangDut lahir setelah ajaran Islam masuk ke Indonesia yang sudah bercampur dengan aliran musik India.
Musik ini mulai tumbuh dan berakar sekitar tahun 1940.Musik ini dipengaruhi oleh unsur musik India yg diambil dari alat musiknya yang bernama Tabla atau musik yg menggunakan gendang.Sedangkan cengkok dan harmonisasinya merujuk ke musik Arab.Akhirnya dipadukan oleh pengaruh musik barat yang mulai marak di akhir tahun 1960-an dengan menggunakan gitar listrik..Dangdut bisa dikatakan lebih matang sejak tahun 1970-an.Ciri Khas musik dangdut diiringi oleh gendang suling dan joget yang gemulai.

B.           Mengapa dinamakan DangDut
Dangdut kental dengan alat musik gendang. Suara gendang menghasilkan bunyi DANG dan DUT. Ada juga yang mengatakan "dangdut" ini berasal dari istilah atau sebutan sinis dari kalangan masyarakat kaum pekerja melayu pada masa itu berdasarkan sebuah artikel majalah awal th 70-an.
Musik ini jauh berbeda dengan musik tradisional asli Indonesia.Tetapi ada sedikit kemiripan khususnya dari adat tradisional melayu.Perjalanan musik Dangdut mengalami perubahan yang seknifikan dari masa kemasa.Dan akhirnya Musik Dangdut sudah membooming di Indonesia bahkan di Mancanegara.

C.           Interaksi dengan musik lain
Interaksi dangdut dengan musik lain disini diartikan bahwa awal mula interaksi dangdut dengan musik lain yang menyebabkan terjadinya bentuk baru dalam musik dangdut, berawal dari dangdut itu sendiri. Seiring dengan perkembangan dangdut, masuk lah jenis - jenis musik lain. musik - musik ini pun lalu bercampur dengan musik dangdut yang pada akhirnya menyebabkan bentuk baru dalam musik dangdut. Dangdut sangat elastis dalam menghadapi dan mempengaruhi bentuk musik yang lain. Lagu-lagu barat populer pada tahun 1960-an dan 1970-an banyak yang didangdutkan. Genre musik gambus dan kasidah perlahan-lahan hanyut dalam arus cara bermusik dangdut. Hal yang sama terjadi pada musik tarling dari Cirebon sehingga yang masih eksis pada saat ini adalah bentuk campurannya: tarlingdut.
Musik rock, pop, disko, house berasimilasi dengan baik dalam musik dangdut. Aliran campuran antara musik dangdut & rock secara tidak resmi dinamakan Rockdut. Demikian pula yang terjadi dengan musik-musik daerah seperti jaipongan, degung, tarling, keroncong, langgam Jawa (dikenal sebagai suatu bentuk musik campur sari yang dinamakan congdut, dengan tokohnya Didi Kempot), atau zapin.
Mudahnya dangdut menerima unsur 'asing' menjadikannya rentan terhadap bentuk-bentuk pembajakan, seperti yang banyak terjadi terhadap lagu-lagu dari film ala Bollywood dan lagu-lagu latin. Kopi Dangdut, misalnya, adalah "bajakan" lagu yang populer dari Venezuela.
               
D.          Bangunan lagu
Meskipun lagu-lagu dangdut dapat menerima berbagai unsur musik lain secara mudah, bangunan sebagian besar lagu dangdut sangat konservatif, sebagian besar tersusun dari satuan delapan birama 4/4. Jarang sekali ditemukan lagu dangdut dengan birama 3/4, kecuali pada lagu-lagu masa Melayu Deli (contoh: Burung Nuri). Lagu dangdut juga miskin improvisasi, baik melodi maupun harmoni. Sebagai musik pengiring tarian, dangdut sangat mengandalkan ketukan tabla dan sinkop.

Intro dapat berupa vokal tanpa iringan atau berupa permainan seruling, selebihnya merupakan permainan gitar atau mandolin. Panjang intro dapat mencapai delapan birama. Bagian awal tersusun dari delapan birama, dengan atau tanpa pengulangan. Jika terdapat pengulangan, dapat disela dengan suatu baris permainan jeda. Bagian ini biasanya berlirik pengantar tentang isi lagu, situasi yang dihadapi sang penyanyi.

Lagu dangdut standar tidak memiliki refrain, namun memiliki bagian kedua dengan bangunan melodi yang berbeda dengan bagian pertama. Sebelum memasuki bagian kedua biasanya terdapat dua kali delapan birama jeda tanpa lirik. Bagian kedua biasanya sepanjang dari dua kali delapan birama dengan disela satu baris jeda tanpa lirik. Di akhir bagian kedua kadang-kadang terdapat koda sepanjang empat birama. Lirik bagian kedua biasanya berisi konsekuensi dari situasi yang digambarkan bagian pertama atau tindakan yang diambil si penyanyi untuk menjawab situasi itu.

Setelah bagian kedua, lagu diulang penuh dari awal hingga akhir. Lagu dangdut diakhiri pada pengulangan bagian pertama. Jarang sekali lagu dangdut diakhiri dengan fade away.'

E.           Dangdut dalam budaya kontemporer Indonesia
Dangdut juga telah mengundang perdebatan dan berakhir dengan pelarangan panggung dangdut. Perdebatan muncul lagi-lagi akibat gaya panggung penyanyi (wanita)-nya yang dinilai terlalu "terbuka" dan berselera rendah, sehingga tidak sesuai dengan misi Sekaten sebagai suatu perayaan keagamaan.
Dangdut memang disepakati banyak kalangan sebagai musik yang membawa aspirasi kalangan masyarakat kelas bawah dengan segala kesederhanaan dan kelugasannya. Ciri khas ini tercermin dari lirik serta bangunan lagunya. Gaya pentas yang sensasional tidak terlepas dari nafas ini.

Panggung kampanye partai politik juga tidak ketinggalan memanfaatkan kepopuleran dangdut untuk menarik massa. Isu dangdut sebagai alat politik juga menyeruak ketika Basofi Sudirman, pada saat itu sebagai fungsionaris Golkar, menyanyi lagu dangdut.
Walaupun dangdut diasosiasikan dengan masyarakat bawah yang miskin, bukan berarti dangdut hanya digemari kelas bawah. Di setiap acara hiburan, dangdut dapat dipastikan turut serta meramaikan situasi. Panggung dangdut dapat dengan mudah dijumpai di berbagai tempat. Tempat hiburan dan diskotek yang khusus memutar lagu-lagu dangdut banyak dijumpai di kota-kota besar. Stasiun radio siaran yang menyatakan dirinya sebagai "radio dangdut" juga mudah ditemui di berbagai kota.
 
F.           Dampak Positif Dangdut
Seberapa lagu dangdut mempunyai makna atau mengandung pesan-pesan moral dan pendidikan, lagu-lagu tersebut mengajarkan atau menasehati agar remaja tidak terlena oleh pengaruh buruk yang diakibatkan kemajuan teknologi. Banyak lagu dangdut yang bertema sosial dan mengangkat realita kehidupan ketika orang-orang terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa, ketika melihat ketidakadilan dan ketidakmanusiaan.
Lagu-lagu tersebut bisa mewakili mereka dalam berteriak dan menyuarakan hati nuraninya yang mencurahkan sisi hitam masyarakat kelas bawah. Kiat menyadarkan masyarakat terutama generasi muda, juga banyak dijumpai dalam lirik lagu dangdut yang mengangkat masalah perjudian yang semakin marak dalam berbagai bentuk.
Selain menggambarkan permasalahan masyarakat, melalui lagu-lagu dangdut banyak kita jumpai kebijaksanaan untuk hidup bermasyarakat secara baik bahkan tidak jarang nasehat untuk kerukunan hidup dan kehati-hatian manusia dalam menentukan masa depannya. Dampak positif lainnya adalah lahirnya kreatifitas untuk mencoba menerjuni bidang yang satu ini.
Lagu dangdut tidak mempengaruhi perilaku penggemarnya. Berbeda dengan pengagum fanatic jenis music lain yang bisa ditandai dengan munculnya model rambut cepak dan baju dan kalung rap.

G.          Dampak Negatif Dangdut          
Sesuai dengan tempat lahirnya, music dan lagu dangdut memang tumbuh subur dikalangan masyarakat, membawakan aspirasi mereka, menyuarakan hati mereka. Maka pantas apabila liriknya selalu berkisar pada persoalan yang menjadi bagian hidup sehari-hari. Nilai-nilai kualitas dari sejumlah lagu dangdut kurang diperhatikan. Sangat sulit untuk menemui nilai lebih dari kreatifitas seniman dangdut sekarang. Selain itu, dampak negative dari lagu dangdut adalah :
1. Munculnya pola hidup atau kebiasaan untuk memburu tempat-tempat yang diketahui
     akan menggelar pertunjukkan music dangdut.
2. Timbulnya gaya hidup yang baru, yakni kesenangan memasuki rumah hiburan (pub) yang
     khusus menyajikan music dan lagu dangdut.
3. Meskipun tidak seluruhnya, sebagian dari pengagum fanatic dangdut, seringkali
     memanfaatkan kesempatan menonton pertunjukkan music ini sambil meminum
     minuman keras (mabuk, teler)
4. Timbulnya peniruan di kalangan remaja terhadap penyanyi idola. Hal ini menyebabkan
     matinya kreatifitas dan buntunya inovasi untuk membentuk jati diri
5. Banyak lagu-lagu dangdut yang mengandung pengertian sensual dibawakan oleh para
     pengamen remaja di berbagai tempat dan menyebabkan mereka matang sebelum
     waktunya.

H.          Dangdut Musik Kampungan?
Sebenarnya sejak awal kemunculannya, musik ini diperuntukkan untuk semua kelas atau kalangan. Namun pada perkembangannya justru musik ini mendapat apresiasi yang luar biasa dari kalangan kelas bawah (www.cinderella. blogdetik.com). Dangdut disukai kalangan kelas bawah karena mungkin jenis  musik dangdut adalah jenis musik yang ringan disertai dengan lirik lagu yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga penikmat musik ini tidak harus memutar otak untuk memahami maksud dari lagu. Ada mitos bahwa musik dangdut adalah milik rakyat kalangan bawah. Bisa jadi lantaran kebanyakan orang desa lebih suka membeli kaset dangdut ketimbang kaset musik Barat yang digandrungi anak kota. Banyak yang ‘alergi’ dengan lagu-lagu dangdut. Dangdut kerap diidentikkan dengan musik yang kurang elit, kampungan, bahkan seronok.
Bangsa ini memiliki para intelektual berjumlah lebih sedikit dibanding yang non intelektual. Sehingga tidak heran apabila saat dangdut begitu populer pada kalangan kelas bawah, seluruh media massa mengeksposnya habis-habisan. Jika ditinjau dalam segi budaya, dangdut begitu diminati masyarakat karena mempunyai kedekatan terhadap budaya kita. Dimana musik ini menggunakan irama melayu yang juga merupakan bagian dalam kebudayaan kita.

I.             Dangdutisme di Layar Televisi
Dangdut  merupakan jenis musik yang dapat  memikat pendengarnya dengan amat baik. Dengan irama musik dangdut orang bisa berjoget  tanpa aturan tertentu untuk menikmatinya. Lirik-liriknya yang kebanyakan mengangkat tema-tema kesedihan, harapan, percintaan, ratapan nasib, kekecewaan, kekesalan dan lain sebagainya, oleh karena itu musik dangdut terkesan kampungan, norak, dan cengeng. Dan stereotip bahwa musik dangdut merupakan musik kaum terpinggirkan, musik kampungan, dan yang kampungan adalah mereka yang miskin.
Jadi harapan kecil untuk mempublikasikan musik dangdut secara besar-besaran agar lebih terekspose dan diminati oleh semua kalangan. Di mana para penyanyi yang menyanyikan lagu dangdut bergoyang dengan bebasnya yang terkesan seronok atau tiidak sopan. Televisi Pendidikan Indonesia atau disingkat dengan nama TPI adalah stasiun televisi pertama yang menyiarkan acara musik dangdut (tahun 90-an). Acara musik dangdut yang bberdurasi satu jam tayang. Kemudian pada tahun 1995 stasiun televisi Indosiar juga menyiarkan acara musik dangdut yang bertajuk ”Dangdun On The Campus”  yang ditayangkan pada hari minggi jam 10 pagi. Acara ini mengupas bagaimana pendapat mahasiswa tentang musik dangdut. Begitu pula dengan SCTV yang meluncurkan program ”Sik Asik”, yaitu program televisi yang mengkhususkan dengan acara musik dangdut. Tak mau kalah RCTI juga mengeluarkan program ”Joged”.
Sekarangpun acara-acara televisi juga marak dengan musik dangdutnya. TPI yang sejak awal mengekspose musik dangdut, mulai dari tahun 2003-an meluncurkan program pencarian bakat di bidang musik dangdut. Acara tersebut dilakukan secara bertahap dengan periode tertentu. Acara yang banyak dikenal masyarakat dengan sebutan KDI atau Kontes Dangdut Indonesia. Bahkan sampai sekarang tahun 2009 acara tersbut masih dilaksanakan.
Hal yang sama tampak juga dalam lahirnya peluncuran MTV Salam Dangdut. MTV (Music Television), raksasa stasiun televisi yang mengkhususkan diri pada dunia musik ini pun melirik dangdut. Satu jenis musik yang sesungguhnya cukup familiar di kawasan Asia. Maka ada harapan bahwa musik dangdut akan jadi setara dengan musik Barat.
Sumber: 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar